Love & Be Your Self

Love your self.

Be your self.

Begitulah kata orang kebanyakan. Mengenai ini, saya pernah menemukan;

|| Kurang bijak untuk sekedar "be your self". Seharusnya "be your self" di versi terbaik diri kita. ||


Entahlah, dalam hal ini saya terpikir membicarakan "self" terkhusus pada wajah. Untuk terwujudnya "be your self dalam versi terbaik", saya melakukan pengobatan diri (=self, wajah).


Ketika mayoritas orang menyebut 'permak muka' sebagai perawatan. Saya pribadi, menyebutnya dengan "pengobatan", karena wajah saya terlanjur 'sakit'.


Meski kadung terlambat dan terhambat, saya bertekad mendedikasikan diri untuk terus berusaha.


Terlambat, karena terlanjur 'sakit' dan baru mengenal dunia 'pengobatan' kurang dari setahun terakhir.

Terhambat, karena belum punya uang sendiri dan kurang tega minta orangtua banyak-banyak.


Sehubungan dengan ini, ada lagi yang perlu diutarakan.

Terkadang, memamerkan wajah dalam bentuk apapun (bagus, berfilter, atau natural sekalipun) itu membutuhkan keberanian, bukan sekedar mau pujian.

Kalau komentaran, memang benar, "kalau tidak mau dikomen, ya jangan post". Tapi, rasanya, gimana ya, terkadang lubuk hati itu ingin post wajah sajaa.

Keinginan itu berontak, kadang menang, kadang dipendam.


Ditutup,

Semoga yang menerimamu apa adanya, dapat menjumpai versi terbaik dirimu pada saatnya.


Ujung barat Pulau Jawa, 13 November 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Nama dan Doa