Love your self. Be your self. Begitulah kata orang kebanyakan. Mengenai ini, saya pernah menemukan; || Kurang bijak untuk sekedar "be your self". Seharusnya "be your self" di versi terbaik diri kita. || Entahlah, dalam hal ini saya terpikir membicarakan "self" terkhusus pada wajah. Untuk terwujudnya "be your self dalam versi terbaik", saya melakukan pengobatan diri (=self, wajah). Ketika mayoritas orang menyebut 'permak muka' sebagai perawatan. Saya pribadi, menyebutnya dengan "pengobatan", karena wajah saya terlanjur 'sakit'. Meski kadung terlambat dan terhambat, saya bertekad mendedikasikan diri untuk terus berusaha. Terlambat, karena terlanjur 'sakit' dan baru mengenal dunia 'pengobatan' kurang dari setahun terakhir. Terhambat, karena belum punya uang sendiri dan kurang tega minta orangtua banyak-banyak. Sehubungan dengan ini, ada lagi yang perlu diutarakan. Terkadang, memamerkan wajah dalam bentuk apa...
Sebetulnya, sepertinya, sudah ada beberapa kejadian sebelum dari yang terjadi belakangan ini, tapi lupa gimananya. Nah sebelum yang baru-baru ini ikut terlupa, kita catat saja. Meski, ya, tidak se-sibling goals itu sebenarnya.. Pertama, pada hari wisudaku. Setelah melakukan sesi foto dengan fotografer bayaran, aku merasa kurang puas. Karena ramai, kurang banyak fotonya, dan lain sebagainya, yang dirasa disebabkan karena sebelumnya aku belum punya bayangan harus bagaimana memanfaatkan waktu foto satu jam sebaik mungkin. Yang terbesit di benakku bukan mengulang foto lagi di studio hari itu juga misalnya, tapi sebuah kalimat yang sepertinya ga bakal terpikir oleh orang lain; "apa aku S2 ya, biar bisa foto wisuda (utamanya foto keluarga) bagus?" :) Keesokan harinya, aku jalan-jalan bersama keluarga. Di satu kesempatan, aku berbincang dengan saudariku satu-satunya, menyerempet tentang foto-foto wisuda. Siapa sangka, kakakku mengatakan persis apa yang ada di benakku tempo hari! Ke...
Sedang dalam perjalanan yang mungkin akan panjang. Mohon doa baik dipanjatkan Sebetulnya 'perjalanan' sudah lama dimulai kurang lebih sejak 22 tahun lalu. Sejak terjadinya pembuahan, sampai jadilah aku yang sekarang. Namun rasanya perjalanan yang mungkin panjang baru saja dimulai. Dijalani (saja). Pelan-pelan (tidak masalah). Sesuai kapasitas. Kalau capek, istirahat. Begitu intisari yang bisa kuambil di atas kayuhan sepeda berban mini, ditemani semburat terbenamnya mentari. Dalam kenyataannya, kadang tetap sulit dijalani. Kurang motivasi. Haha, hii ** • "Andai bukan karena Allah menguatkan hati kita ketika menghadapi ujian dan cobaan, maka niscaya akal kita akan sirna. Akan tetapi Allah Maha Lembut dan Maha Menyayangi hamba-hamba-Nya" (الشعراوي) • Segala puji bagi Allah atas nikmat "terbiasa", atas nikmat "bisa melewati", dan atas nikmat "bisa melupakan". ...
Komentar
Posting Komentar